Kamis, 01 Maret 2018

Cerita Pendek Dari Pengalaman Hidup



 HILANG DAN KEMBALI
Karya : Amella Zainah Mustofa
Waktu itu, aku masih duduk dibangku TK (Taman Kanak-kanak).  Aku sangat menyukai benda yang bernama air. Kapanpun aku melihat benda itu, hatiku menjadi sangat senang tak karuan dan aku pasti akan bermain dengan benda tersebut. Aku sudah tidak peduli lagi apa yang dilakukan dan dikatakan orang-orang sekitarku.
Di belakang sekolah, ada satu kolam kecil. Ketika aku sekolah, aku pasti akan main di sana. Kolam itu memang disediakan sekolah untuk murid-murid yang suka berenang dan ingin berenang. Aku juga akan dibawakan baju ganti oleh bunda. Sesampainya aku di rumah, aku selalu menanti hari esok untuk bermain di sekolah.
Saat di rumah, jika bundaku sibuk mengerjakan tugas sebagai seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) atau sedang sibuk mengerjakan tugasnya dari kantor, aku akan menyalakan air di Taman kecil, tepatnya di halaman rumah. Kebetulan di rumahku tidak ada kolam berenang. Aku memainkannya sampai bunda benar-benar melihat apa yang aku lakukan. Bunda baru melihatku ketika aku sudah basah. Meskipun begitu, bunda tidak melarang apa yang aku sukai, sebab ia sangat menyayangiku meski yang kulakukan saat itu adalah membuang-buang dan memubazirkan air. Setelah dia sudah melihat apa yang aku lakukan, dia mengawasiku terlebih dahulu. Saat lima menit berlalu, baru dia membawaku ke dalam dan menghentikan kegiatanku meski terkadang aku tak mau. Di dalam, dia membawaku ke kamar mandi. Dia memandikanku dan menggantikanku baju, terkadang kalau aku tidak mau dimandikannya, aku memilih untuk mandi sendiri.
Saat aku bermain, aku melupakan segala sesuatu meskipun itu yang ada disekitarku saat itu juga. Aku sangat suka dengan air, tapi tidak dengan air hujan. Aku sangat tidak suka dengan air hujan, kenapa? Karena jika hujan turun dan aku tetap memaksakan untuk bermain air hujan, aku bisa langsung sakit. Awalnya, aku lebih senang dengan hujan dari pada air dari kran atau kolam. Namun, ketika aku mencoba untuk bermain air hujan, pulangnya aku langsung sakit. Kebetulan besoknya aku sekolah, sehingga tidak bisa masuk sekolah untuk beberapa hari karena terkena demam.
Melihat kebiasaanku yang seperti itu, bunda mengajakku berenang. Padahal dia tahu aku kalau belum bisa berenang. Aku diajarkan oleh bunda dan abi untuk berenang. Dengan abiku, ia mengajariku dasar-dasar berenang. Banyak yang bilang kalo dia sangat jago berenang. Awalnya aku takut, tetapi bunda dan abi sangat sabar mengajariku. Sewaktu abiku sibuk dengan pekerjaannya, aku tetap bisa pergi dengan Bunda dan Kakakku. Ya, Aku punya Abang tapi aku lebih suka memanggilnya Kakak dibanding Abang, ia juga lebih suka dipanggil Kakak. Jadi kami sekeluarga memutuskan untuk memanggilnya Kakak Alvin, ya Alvin namanya. Kata Bundaku, dia suka nonton film Alvin. Jadi anak pertamanya ia berikan nama Alvin.

Aku, bunda, dan Kak Alvin pergi ke kolam berenang. Saat itu bundaku sedang halangan, jadi dia tidak ikut masuk ke kolam tetapi dia tetap mengawasi kami. Karena bunda tidak ikut berenang, jadi Kak Apin lah yang mengajariku berenang. Umur dia beda lima tahun denganku. Saat itu umurku lima tahun dan dia sepuluh  tahun, jadi dia sudah cukup bisa untuk mengajariku berenang jika bunda dan abi berhalangan.
Lama-kelamaan aku menyukai berenang dan itu jadi hobi ketigaku setelah menari dan menggambar. Tapi itu dulu, sekarang beda lagi jamannya. Karena abi sudah banyak mengajariku dasar-dasar berenang, ia sampai bingung mau ngajarin apalagi. Lalu abiku menawariku dan kakakku untuk les berenang. Bundaku mengajak dan mengantarku berenang dua kali seminggu, karena dia tahu hobiku. Aku sangat senang karena aku bisa bermain air kapanpun kumau.
Sebulan setelah kursus berenang dimulai, liburan telah tiba. Aku bersama keluarga besarku, pergi ke villa kami. Villa kami berada di daerah Bogor, Jawa Barat. Di villa kami kebetulan ada kolam berenang. Jadi setiap aku ke sana, aku sangat menantikan berenang di air yang cukup dingin dan suasana yang sejuk di sana. Ketika kami sampai, untungnya kolam berenang itu sudah dibersihkan oleh penjaga villa kami. Karena jika kami kembali ke Jakarta, kolam berenang tidak akan ada yang memakainya. Sehingga kolam itu menjadi kotor. Oleh karena itu, sebelum kami datang, kami harus menghubungi penjaga villa untuk membersihkan kamar dari debu, kolam berenang dan menyiapkan bahan dan alat masak. Ketika masuk ke villa, aku, kakakku dan semua sepupuku langsung terburu-buru melihat kolam berenang. Sayangnya kami tidak bisa langsung berenang, karena kami selalu sampai saat tengah malam dan harus menunggu hingga pagi hari tiba.
Pagi telah tiba. Aku, Kak Apin, dan Adik sepupuku sudah bersiap-siap untuk berenang. Tetapi, lagi-lagi permasalahan dan larangan tiba. Kami harus makan sebelum berenang agar tidak masuk angin. Kami juga harus menunggu makanan yang dimakan siap saji. Karena tak kuasa menahan nafsu, kami hanya meletakkan kaki di dalam kolam berenang. Ketika makanan datang, kami langsung terburu-buru untuk memakannya. Bukan karena kami kelaparan, akan tetapi karena ingin cepat-cepat berenang.
Ketika berenang, kaum anak-anak memasuki air duluan lalu disambung dengan abiku. Ia bertanya, “kenapa kamu tidak kekolam yang dalam?.” Kolamnya ada dua tempat. Yang satu cetek dan yang satu lagi agak dalam. Lalu aku menjawabnya “ngga ah, aku takut.” Mendengar pernyataanku, ia langsung memberikanku keberanian untuk masuk ke kolam yang lebih dalam itu. Di kolam itu aku ternyata bisa. Sejujurnya aku sudah di ajarkan di tempat les berenang untuk berenang di kolam yang agak dalam. Tetapi kolam di villa lebih dalam dibandingkan dengan yang ada di tempat lesku.
Satu jam berlalu, abi tampaknya sudah malas untuk berenang. Tetapi aku masih ingin berenang bersamanya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengawasiku saja dari tepi kolam renang.
Tiba-tiba pamanku datang, namanya Om Ipul. Karena kami semua pergi dengan keluarga besar, tentunya Om Ipul juga ikut. Lalu dia langsung masuk ke kolam berenang tanpa pemanasan. Dia juga menghampiriku.
Awalnya, dia sama seperti abiku untuk mengawasiku dan mengajariku gaya-gaya ketika berenang, seperti gaya kodok, lumba-lumba, dan masih banyak lainnya. Namun tak ku sangka. Ternyata dia seperti menekan kepalaku ke dalam air. Meskipun aku baru ketahui itu merupakan cara untuk mengatur nafas kita agar kuat bertahan di dalam air, tetapi aku belum siap. Akhirnya aku menelan dan menghirup air yang sangat banyak.
Orang-orang di sekitarku hanya melihatku dan menertawaiku, bukan menolongku atau meminta Om Ipul untuk berhenti. Mereka juga melihatku menangis, tapi mereka tetap saja tak peduli. Sampai beberapa menit kemudian, baru dia membawaku ke luar dari kolam berenang. Aku tetap menangis, aku juga membenci pamanku dari situ. Bukan hanya pamanku, tetapi aku juga menjadi benci dengan air dan berenang.
Sepulang dari villa, bunda memberi pilihan. Karena dia tau pada akhirnya aku benci untuk berenang. Pilihan pertama adalah tetap kursus berenang untuk mempelajari kejadian tersebut, atau berhenti kursus berenang. Jelas aku akan pilih berhenti kursus agar hal tersebut tidak terulang untuk yang kedua kalinya.
Ketika aku sudah duduk di bangku SD (Sekolah Dasar), aku masuk ke sekolah yang ada pelajaran berenangnya setiap bulan. Kami semua harus mengikuti pelajaran itu, jika tidak nilai kami saat mata pelajaran renang akan kosong. Tapi aku sudah membenci dan tidak menyukai berenang, jadi aku memutuskan untuk tidak mengikutinya.
Waktu berlalu, setelah wali kelasku selalu memperhatikanku, ia bingung kenapa aku tidak ingin berenang sedangkan anak-anak yang lain sangat menantikan pelajaran ini. Dia langsung bertanya apa alasanku tidak mau mengikuti pelajaran renang dan aku menjelaskan hal yang terjadi pada saat liburan kenaikan kelas.
Guruku langsung menjawab, “Jika kamu takut dan tidak mau berenang, tak apa. tetapi teman-temanmu akan mengejekmu  dan seseorang akan membuat diriku jauh lebih dari takut yang sekarang.” Aku terdiam, ku fikirkan lagi apa yang baru saja dia katakan. “Berenang juga bisa membuatmu lebih sehat dan lebih tinggi dari sekarang. Kalau kamu pendek, teman-temanmu juga akan mengejekmu lagi bukan?” tambahnya. “Tapi bagaimana caranya, Bu?”, tanyaku. “Kamu bisa saja melupakan hal-hal yang membuatmu benci berenang.”
Setelah ku fikir-fikir sekitar 2 minggu, guruku benar. Aku mencoba untuk menghilangkan ketakutanku. Lalu dengan harapanku yang besardan juga semangat dari orang-orang terdekatku, aku bisa mendapatkan kembali hobiku. Perlahan-lahan aku dapat melupakan ketakutanku dengan kolam berenang dan kegiatan renang.
Setelah merenungkan semua itu, keesokkannya ada pelajaran renang. Aku mencoba untuk mengikuti pelajaran tersebut. Aku mulai dari duduk di tepi kolam, meletakkan kakiku ke dalam air, melupakan semua ketakutan dan kebencianku dan aku langsung menyebur ke dalam air. Aku jadi suka air dan berenang lagi. Aku sangat senang karena aku bisa melupakan semua ketakutan dan men

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kesan Pesan PKKP 2022

Halo teman-teman!  Pada kesempatan kali ini, aku mau memberi kesan pesan terhadap kegiatan PKKP 2022. Sebenarnya, aku adalah mahasiswa angka...