HILANG
DAN KEMBALI
Karya
: Amella Zainah Mustofa
Waktu
itu, aku masih duduk dibangku TK (Taman Kanak-kanak). Aku sangat menyukai benda yang bernama air.
Kapanpun aku melihat benda itu, hatiku menjadi sangat senang tak karuan dan aku
pasti akan bermain dengan benda tersebut. Aku sudah tidak peduli lagi apa yang
dilakukan dan dikatakan orang-orang sekitarku.
Di
belakang sekolah, ada satu kolam kecil. Ketika aku sekolah, aku pasti akan main
di sana. Kolam itu memang disediakan sekolah untuk murid-murid yang suka berenang
dan ingin berenang. Aku juga akan dibawakan baju ganti oleh bunda. Sesampainya
aku di rumah, aku selalu menanti hari esok untuk bermain di sekolah.
Saat
di rumah, jika bundaku sibuk mengerjakan tugas sebagai seorang Ibu Rumah Tangga
(IRT) atau sedang sibuk mengerjakan tugasnya dari kantor, aku akan menyalakan
air di Taman kecil, tepatnya di halaman rumah. Kebetulan di rumahku tidak ada
kolam berenang. Aku memainkannya sampai bunda benar-benar melihat apa yang aku lakukan.
Bunda baru melihatku ketika aku sudah basah. Meskipun begitu, bunda tidak
melarang apa yang aku sukai, sebab ia sangat menyayangiku meski yang kulakukan
saat itu adalah membuang-buang dan memubazirkan air. Setelah dia sudah melihat
apa yang aku lakukan, dia mengawasiku terlebih dahulu. Saat lima menit berlalu,
baru dia membawaku ke dalam dan menghentikan kegiatanku meski terkadang aku tak
mau. Di dalam, dia membawaku ke kamar mandi. Dia memandikanku dan
menggantikanku baju, terkadang kalau aku tidak mau dimandikannya, aku memilih
untuk mandi sendiri.
Saat
aku bermain, aku melupakan segala sesuatu meskipun itu yang ada disekitarku
saat itu juga. Aku sangat suka dengan air, tapi tidak dengan air hujan. Aku
sangat tidak suka dengan air hujan, kenapa? Karena jika hujan turun dan aku tetap
memaksakan untuk bermain air hujan, aku bisa langsung sakit. Awalnya, aku lebih
senang dengan hujan dari pada air dari kran atau kolam. Namun, ketika aku
mencoba untuk bermain air hujan, pulangnya aku langsung sakit. Kebetulan
besoknya aku sekolah, sehingga tidak bisa masuk sekolah untuk beberapa hari
karena terkena demam.
Melihat
kebiasaanku yang seperti itu, bunda mengajakku berenang. Padahal dia tahu aku kalau
belum bisa berenang. Aku diajarkan oleh bunda dan abi untuk berenang. Dengan abiku,
ia mengajariku dasar-dasar berenang. Banyak yang bilang kalo dia sangat jago berenang.
Awalnya aku takut, tetapi bunda dan abi sangat sabar mengajariku. Sewaktu abiku
sibuk dengan pekerjaannya, aku tetap bisa pergi dengan Bunda dan Kakakku. Ya,
Aku punya Abang tapi aku lebih suka memanggilnya Kakak dibanding Abang, ia juga
lebih suka dipanggil Kakak. Jadi kami sekeluarga memutuskan untuk memanggilnya
Kakak Alvin, ya Alvin namanya. Kata Bundaku, dia suka nonton film Alvin. Jadi
anak pertamanya ia berikan nama Alvin.
Aku,
bunda, dan Kak Alvin pergi ke kolam berenang. Saat itu bundaku sedang halangan,
jadi dia tidak ikut masuk ke kolam tetapi dia tetap mengawasi kami. Karena bunda
tidak ikut berenang, jadi Kak Apin lah yang mengajariku berenang. Umur dia beda
lima tahun denganku. Saat itu umurku lima tahun dan dia sepuluh tahun, jadi dia sudah cukup bisa untuk mengajariku
berenang jika bunda dan abi berhalangan.
Lama-kelamaan
aku menyukai berenang dan itu jadi hobi ketigaku setelah menari dan menggambar.
Tapi itu dulu, sekarang beda lagi jamannya. Karena abi sudah banyak mengajariku
dasar-dasar berenang, ia sampai bingung mau ngajarin apalagi. Lalu abiku
menawariku dan kakakku untuk les berenang. Bundaku mengajak dan mengantarku
berenang dua kali seminggu, karena dia tahu hobiku. Aku sangat senang karena
aku bisa bermain air kapanpun kumau.
Sebulan
setelah kursus berenang dimulai, liburan telah tiba. Aku bersama keluarga
besarku, pergi ke villa kami. Villa kami berada di daerah Bogor, Jawa Barat. Di
villa kami kebetulan ada kolam berenang. Jadi setiap aku ke sana, aku sangat
menantikan berenang di air yang cukup dingin dan suasana yang sejuk di sana.
Ketika kami sampai, untungnya kolam berenang itu sudah dibersihkan oleh penjaga
villa kami. Karena jika kami kembali ke Jakarta, kolam berenang tidak akan ada
yang memakainya. Sehingga kolam itu menjadi kotor. Oleh karena itu, sebelum
kami datang, kami harus menghubungi penjaga villa untuk membersihkan kamar dari
debu, kolam berenang dan menyiapkan bahan dan alat masak. Ketika masuk ke
villa, aku, kakakku dan semua sepupuku langsung terburu-buru melihat kolam
berenang. Sayangnya kami tidak bisa langsung berenang, karena kami selalu
sampai saat tengah malam dan harus menunggu hingga pagi hari tiba.
Pagi
telah tiba. Aku, Kak Apin, dan Adik sepupuku sudah bersiap-siap untuk berenang.
Tetapi, lagi-lagi permasalahan dan larangan tiba. Kami harus makan sebelum
berenang agar tidak masuk angin. Kami juga harus menunggu makanan yang dimakan
siap saji. Karena tak kuasa menahan nafsu, kami hanya meletakkan kaki di dalam
kolam berenang. Ketika makanan datang, kami langsung terburu-buru untuk
memakannya. Bukan karena kami kelaparan, akan tetapi karena ingin cepat-cepat
berenang.
Ketika
berenang, kaum anak-anak memasuki air duluan lalu disambung dengan abiku. Ia
bertanya, “kenapa kamu tidak kekolam yang dalam?.” Kolamnya ada dua tempat.
Yang satu cetek dan yang satu lagi agak dalam. Lalu aku menjawabnya “ngga ah,
aku takut.” Mendengar pernyataanku, ia langsung memberikanku keberanian untuk
masuk ke kolam yang lebih dalam itu. Di kolam itu aku ternyata bisa. Sejujurnya
aku sudah di ajarkan di tempat les berenang untuk berenang di kolam yang agak
dalam. Tetapi kolam di villa lebih dalam dibandingkan dengan yang ada di tempat
lesku.
Satu
jam berlalu, abi tampaknya sudah malas untuk berenang. Tetapi aku masih ingin
berenang bersamanya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengawasiku saja dari tepi
kolam renang.
Tiba-tiba
pamanku datang, namanya Om Ipul. Karena kami semua pergi dengan keluarga besar,
tentunya Om Ipul juga ikut. Lalu dia langsung masuk ke kolam berenang tanpa
pemanasan. Dia juga menghampiriku.
Awalnya,
dia sama seperti abiku untuk mengawasiku dan mengajariku gaya-gaya ketika
berenang, seperti gaya kodok, lumba-lumba, dan masih banyak lainnya. Namun tak
ku sangka. Ternyata dia seperti menekan kepalaku ke dalam air. Meskipun aku
baru ketahui itu merupakan cara untuk mengatur nafas kita agar kuat bertahan di
dalam air, tetapi aku belum siap. Akhirnya aku menelan dan menghirup air yang
sangat banyak.
Orang-orang
di sekitarku hanya melihatku dan menertawaiku, bukan menolongku atau meminta Om
Ipul untuk berhenti. Mereka juga melihatku menangis, tapi mereka tetap saja tak
peduli. Sampai beberapa menit kemudian, baru dia membawaku ke luar dari kolam
berenang. Aku tetap menangis, aku juga membenci pamanku dari situ. Bukan hanya
pamanku, tetapi aku juga menjadi benci dengan air dan berenang.
Sepulang
dari villa, bunda memberi pilihan. Karena dia tau pada akhirnya aku benci untuk
berenang. Pilihan pertama adalah tetap kursus berenang untuk mempelajari
kejadian tersebut, atau berhenti kursus berenang. Jelas aku akan pilih berhenti
kursus agar hal tersebut tidak terulang untuk yang kedua kalinya.
Ketika
aku sudah duduk di bangku SD (Sekolah Dasar), aku masuk ke sekolah yang ada
pelajaran berenangnya setiap bulan. Kami semua harus mengikuti pelajaran itu,
jika tidak nilai kami saat mata pelajaran renang akan kosong. Tapi aku sudah
membenci dan tidak menyukai berenang, jadi aku memutuskan untuk tidak
mengikutinya.
Waktu
berlalu, setelah wali kelasku selalu memperhatikanku, ia bingung kenapa aku
tidak ingin berenang sedangkan anak-anak yang lain sangat menantikan pelajaran
ini. Dia langsung bertanya apa alasanku tidak mau mengikuti pelajaran renang
dan aku menjelaskan hal yang terjadi pada saat liburan kenaikan kelas.
Guruku
langsung menjawab, “Jika kamu takut dan tidak mau berenang, tak apa. tetapi
teman-temanmu akan mengejekmu dan
seseorang akan membuat diriku jauh lebih dari takut yang sekarang.” Aku
terdiam, ku fikirkan lagi apa yang baru saja dia katakan. “Berenang juga bisa
membuatmu lebih sehat dan lebih tinggi dari sekarang. Kalau kamu pendek,
teman-temanmu juga akan mengejekmu lagi bukan?” tambahnya. “Tapi bagaimana
caranya, Bu?”, tanyaku. “Kamu bisa saja melupakan hal-hal yang membuatmu benci
berenang.”
Setelah
ku fikir-fikir sekitar 2 minggu, guruku benar. Aku mencoba untuk menghilangkan
ketakutanku. Lalu dengan harapanku yang besardan juga semangat dari orang-orang
terdekatku, aku bisa mendapatkan kembali hobiku. Perlahan-lahan aku dapat
melupakan ketakutanku dengan kolam berenang dan kegiatan renang.
Setelah
merenungkan semua itu, keesokkannya ada pelajaran renang. Aku mencoba untuk
mengikuti pelajaran tersebut. Aku mulai dari duduk di tepi kolam, meletakkan
kakiku ke dalam air, melupakan semua ketakutan dan kebencianku dan aku langsung
menyebur ke dalam air. Aku jadi suka air dan berenang lagi. Aku sangat senang
karena aku bisa melupakan semua ketakutan dan men
Tidak ada komentar:
Posting Komentar