a. Novel Angkatan 20
Salah Pilih
Karya :
Nur Sutan Iskandar
Di sebuah daerah bernama sungai batang. Asnah tinggal bersama ibu
Mariati, di sebuah rumah gedang. Asnah merupakan anak yang cantik, dan juga
baik hati sehingga tak heran apabila ia disenangi oleh semua orang, baik ibu
Mariati maupun para tetangga yang seringkali datang ke rumah gedang tersebut.
Disana ia diperlakukan selayaknya anak kandungnya sendiri oleh ibu Mariati.
Meskipun Asnah adalah anak angkat ibu Mariati, namun ia sangat sayang kepada
Asnah. Begitu pula Asnah yang juga sangat menyayangi ibu Mariati. Asnah sangat
berbakti kepada ibu Mariati, ia senantiasa ada saat sembuh maupun saat sakit.
Asnah merupakan pelipur lara bagi ibu Mariati.
Selain Asnah, ibu Mariati mempunyai seorang anak yang bernama
Asri. Asri adalah seorang pemuda yang tampan, pintar dan juga ramah. Tak heran
apabila semua warga juga pun sangat menghormati dan menyukainya. Sama halnya
dengan ibu Mariati, Asri juga sangat menyayangi Asnah. Asnah selalu menjadi obat
dikala ia sakit, dan hanya Asnahlah yang sangat mengerti akan perasaan Asri.
Di rumah gedang tersebut juga tinggal siti Maliah seorang pembantu
yang sudah lama berada dalam rumah itu dan telah dianggap sebagai saudara
sendiri oleh ibu Mariati. Siti Maliah pun juga sangat menyayangi Asnah karena
sikap dan perilaku Asnah yang baik.
Sebenarnya sudah sejak lama Asnah memendam perasaannya terhadap
Asri. Kini Asri tengah berada di Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya. Namun
perasaan Asnah tidak pernah berubah terhadap Asri. Ia tetap mencintai Ari
dengan segenap jiwanya. Namun, Asnah sadar bahwa perasaannya tersebut tidak
pantas ia ungkapkan pada kakaknya tersebut. Meskipun hanya sekedar adik angkat,
namun adat menentang sebuah percintaan antara sesame suku. Begitulah adat yang
aberlaku di daerah tersebut.
Ketika suatu hari Asri pulang ke rumahnya, keadaan ibu Mariati
lama kelamaan membaik, dan berangsur sembuh. Ibu Mariati sangat senang akan
kedatangan Asri dan meminta kepada anaknya tersebut untuk tidak kembali ke
Jakarta dan mencari pekerjaan di daerahnya saja, lantaran keadaan bu Mariati
yang seringkali jatuh sakit karena usia yang tua. Dengan berat hati akhirnya
Asri menuruti kemauan ibunya untuk tinggal di rumah gedang tersebut. Asnah tahu
bahwa Asri sebenarnya sangat sedih karena tidak bisa melanjutkan sekolahnya.
Namun, berkat sikap Asnah, akhirnya Asri pun adapat menerima semua itu karena
nasihat-nasihat yang diberikan oleh adiknya tersebut. Asnah mencoba memendam
semua perasaannya saat bertemu dengan Asri. Dia tak ngin Asri tahu akan
perasaannya yang demikian tersebut.
Asnah sangat gembira saat mengetahui Asri akan tinggal di rumah
tersebut. Namun, ada satu hal yang membuat ia kecewa, yakni ibu Mariati
menyuruh Asri untuk segera menikah. Asri pun menuruti kembali apa yang ibunya
inginkan. Ia pun mulai mencari gadis yang tepat yang kelak akan menjadi
istrinya. Lalu dipilih-pilihlah wanita di Negerinya yang belum menikah.
Akhirnya Asri menemukan seorang gadis yang dianggap cocok untuk menjadi
pendampingnya kelak. Gadis itu adalah Saniah. Keinginannya melamar saniah
bukanlah tanpa alasan. Asri lebih dahulu tertarik kepada kakak Saniah, yaitu
Rusiah. Rusiah adalah seorang perempuan yang baik hatinya, dan lembut
perangainya. Namun ketika Asri bersekolah di Bukittinggi, ternyata Rusiah
dikawinkan dengan seorang laki-laki bernama Sutan Sinaro. Jadi Asri memutuskan
untuk meminang Saniah karena dirasa bahwa Saniah pun tak akan jauh beda dengan
kakaknya, baik rupa ataupun perangainya.
Sampai suatu saat Asri bersama-sama ibunya memutuskan untuk
bertamu ke rumah keluarga Saniah. Keluarga itu adalah keluarga orang
terpandang, keluarga seorang bangsawan kaya dan terpelajar. Walaupun ibu gadis
tersebut memiliki perilaku yang kaku dan cenderung angkuh, namun Asri yakin bahwa
Saniah tentunya berperilaku lain dengan ibunya.
Tak berapa lama, Asri memutuskan memilih Saniah sebagai calon
istrinya. Mereka berdua melaksanakan acara pertunangan terlebih dahulu. Saat
pertunangan, Saniah benar-benar menampakkan perilakunya yang sangat baik, ia
pun hormat terhadap seluruh keluarga Asri. Perilaku demikian itu membuat Asri
semakin yakin dengan pilihannya itu. Tak lama, dilangsungkanlah upacara
perkawinan Asri dengan Saniah yang sangat meriah.
Setelah menikah, mereka berdua lalu pindah ke Rumah Gedang milik
keluarga Asri. Dari situlah diketuahui bahwa peerilaku Saniah tidaklah seelok
yang dia perlihatkan saat sebelum menikah. Saniah begitu memandang rendah
Asnah, hanya karena Asnah adalah anak angkat. Dia merasa bahwa tidak sepatutnya
Asnah disejajarkan dengan dirinya yang berasal dari kaum bangsawan. Ternyata,
perilaku Saniah begitu angkuh, berbeda dengan yang dia perlihatkan sebelum
menikah dahulu. Saniah begitu sering menyindir, bersikap bengis, bahkan mencaci
maki yang begitu menyakitkan hati Asnah. Bahkan terhadap mertuanya pun, Saniah
bersikap tidak sopan. Namun Asnah adalah seorang gadis tegar dan sabar yang
mempunyai hati lapang, dia tidak pernah membalas perlakuan buruk dari
iparnya itu.
Setelah menikah, sifat buruk Saniah semakin menjadi. Bahkan
sekarang dia berani melawan suaminya, kerap kali ia juga berkata-kata kasar
terhadap suaminya. Sehingga dapat dilihat kalau sifat Saniah tak jauh beda
dengan ibunya, Rangkayo Saleah. Suatu hari Saniah pulang ke rumah orang tuanya
saat itu Sidi Sutan, pembantunya datang menjemput. Yang semula bermaksud
menjemput Saniah dan Asri, namun karena pertengkaran itu, jadilah Saniah pulang
sendiri tanpa didampingi oleh suaminya.
Rangkayo Saleah mendapat kabar bahwa anak laki-lakinya, Kaharuddin
akan menikah dengan seorang perempuan, anak seorang saudagar batik di kota
Padang. Ia pun sangat marah. Karena menganggap gadis tersebut tidak
sesuai dengan pilihannya. Sementara Dt. Indomo ayah Kaharuddin, dan juga ayah
Saniah, merasa tidak setuju dengan pendapat istrinya itu. Ia menganggap bahwa
kebahagian anaknya adalah yang utama. Namun suaminya tersebut pun tidak berdaya
akibat keangkuhan Rangkayo Saleah.
Namun Rangkayo Saleah tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak
menyetujui pernikahan Kaharuddin. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke
Padang untuk mnentang pernikahan Kaharuddin. Saniah yang berada di rumahnya
setelah Sidi Sutan menjemputnya dari rumah Gedang diajaknya untuk pergi ke kota
Padang. Di tengah jalan, kendaraan yang mereka tumpangi sempat berhenti. Lalu
sejenak Saniah memandang negeri yang ia tinggallkan. Namun entah mengapa,
begitu banyak yang ia ingat saat ia memandang Rumah Gedang yang nampak jelas
terlihat dikejauhan. Tiba-tiba ia teringat akan suaminya, yang begitu sayang
terhadapnya, ia telah durhaka terhadap suaminya, teringat ia akan dosa-dosa
yang telah ia perbuat terhadap Asnah.
Setelah lama memandang, seakan-akan ia akan pergi jauh. Lalu
dilanjutkannyalah perjalanan mereka. Rangkayo Saleah menyuruh sang sopir untuk
mengebut agar cepat sampai. Sang sopir pun begitu senang ketika Rangkayo Saleah
menyuruhnya untuk memacu kendaraannya dengan cepat. Karena baginya inilah
saatnya untuk memperlihatkan kelihaiannya dalam mengendalikan mobil, walaupun
jalanan berkelok tajam, juga tebingnya yang begitu curam.
Namun yang terjadi, sang sopir kehilangan kendalinya, dan mobil
yang dikendalikannya itu jatuh terbalik dan masuk ke dalam sungai yang kering
airnya. Rangkayo Saleah meninggal di tempat kejadian, sementara Saniah yang
masih bernafas segera diselamatkan orang-orang dan dibawa ke rumah sakit.
Namun, karena kecelakaan yang dialaminya begitu parah, akhirnya Saniah pun
meninggal dunia setelah sempat bertemu dan meminta maaf kepada suaminya.
Begitu banyak lamaran datang kepada Asri setelah istrinya
meninggal. Namun, dia tak ingin salah pilih lagi. Ia memutuskan kalaupun ia
hendak menikah lagi, ia hanya akan menikah dengan orang yang sudah sangat
dikenal oleh dirinya dan dapat menjadi kawan yang selalu ada dalam susah,
sedih, senang dan gembira, yaitu Asnah. Ia tak ingin salah pilih lagi karena ia
yakin bahwa Asnah lah satu-satunya perempuan terbaik bagi dirinya. Akhirnya ia
pun mendatangi rumah Asnah dan mengutarakan niatnya untuk menikah denga Asnah
secara diam-diam. Karena mereka tahu bahwa pernikahan mereka pastilah di
tentang oleh masyarakat di daerh mereka yang tidak membenarkan adanya suatu
pernikahan sesama suku.
Adat tersebut mengatakan bahwa jika ada yang menikah dengan
saudara sesuku maka konsekuensinya mereka hrus di usir dar daerah tersebut.
Asri pun berpikir, daripada ia harus mengikuti adat yang bertentangan dengan
hati nuraninya serta harus kehilangan orang yang dicintainya, ia pun memutuskan
untuk membawa Asnah pergi meninggalkalkan Minangkabau. Ia pun rela melepaskan
pekerjaannya sebagai seorang Sutan Bendahara. Mereka memutuskan untuk pergi ke
Jawa.
Saat berada di Jawa, kehidupan mereka disana tidak begitu cukup.
Mereka pun banyak dijauhi oleh orang-orang sekampung mereka yang kebetulan
sama-sama tinggal di Jawa. Namun karena usaha keras dan kesabaran hati mereka,
akhirnya Asri mendapatkan pekerjaan yang layak dan yang terpenting, Asri
mendapatkan kebahagian bersama Asnah.
Beberapa tahun kemudian Asri mendapat surat dari kampung
halamannya untuk pulang. Penduduk kampung telah kehilangan sosok cerdas seperti
Asri yang dapat memajukan kampung mereka. Akhirnya Asnah dan Asri pun pulang ke
kampung halaman. Di sana mereka disambut bagai seorang Raja. Asnah sangat
bahagia karena dapat bertemu dengan keluarganya dan tetangganya di rumah gedang
tersebut.begitu pula dengan Asri yang siap membawa kemajuan untuk kampungnya.
·
Kebiasaan :
1.)
Ditambahnya panggilan Mak Cik pada awal nama.
Bukti kutipan: “Sementara pembantu itu bernama Liah dan dua anak
itu biasa memanggilnya Mak Cik Lia.”
2.)
Terbiasa jujur dalam satu keluarga.
Bukti kutipan: “Mereka
terbiasa jujur satu sama lain, bahkan Asnah mengetahui rahasia kakaknya yang
tidak diketahui sang bunda, begitu juga sebaliknya.”
·
Etika :
1)
Asri menghormati adat dari ibunya.
Bukti kutipan: “...karena
Asri sudah terbiasa dengan pendidikan luar yang bebas. Ia sangat menghormati
adat...”
2)
Penyambutan meriah oleh warga untuk orang yang berjasa.
Bukti kutipan: pada
kalimat: “Setibanya di Maninjau, mereka disambut meriah oleh warga yang sangat
menghormati Asri atas jasa-jasanya sebelum ia merantau dulu dan atas kelembutan
tabiat Asnah
·
Adat :
1)
Dilarang menikah jika pasangan sesama suku.
Bukti kutipan: “Gadis itu sangat terpukul ketika sang ibu meminta
anak lelakinya untuk segera menikah, dia tahu bukan ia yang akan menjadi
pendamping Asri karena adat melarang pernikahan sesuku seperti mereka.”
2)
Adat yang dilakukan pasangan Asri dan saniah dengan adat
Minangkabau.
Bukti kutipan: “Mereka bertunangan lalu menikah setelah melewati
beberapa adat Minangkabau.”
3)
Dilarang menikah jika suatu pasangan sedarah.
Bukti kutipan: “Wanita itu juga menjelaskan adat Minang yang tidak
melarang Asri dan Asnah menikah karena mereka tidak sedarah.”
4)
Jika suatu pasangan tidak meninggalkan daerah asal mereka akan dikeluarkan
secara tidak hormat.
Bukti kutipan: “Ia memutuskan menikah dengan Asnah dan
meninggalkan segala harta dan jabatannya untuk merantau ke Jawa, karena jika
tidak pergi dari situ, maka keduanya akan dikeluarkan dari suku secara tidak
hormat.”
b. Novel Angkatan 30
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Karya :
Hamka
Di Negeri Batipuh Sapuluh Koto (Padang panjang) , seorang pemuda
bergelar Pendekar Sutan, kemenakan Datuk Mantari Labih, yang merupakan pewaris
tunggal harta peninggalan ibunya. Karena tak bersaudara perempuan, maka harta
bendanya diurus oleh mamaknya. Datuk Mantari labih hanya bisa
menghabiskan harta tersebut, sedangkan untuk kemenakannya tak boleh
menggunakannya. Hingga suatu hari, ketika Pendekar Sutan ingin menikah namun tak
diizinkan menggunakan hartany atersebut, terjadilah pertengkaran yang membuat
Datuk Mantari labih terbunuh. Pendekar Sutan ditangkap, saat itu ia baru
berusia 15 tahun. Ia dibuang ke Cilacap, kemudian dibawa ke Tanah Bugis. Karena
Perang Bone, akhirnya ia sampai di Tanah Mengkasar. Beberapa tahun berjalan,
Pendekar Sutan bebas dan menikah dengan Daeng Habibah, putri seorang penyebar
agama islam keturunan Melayu. Empat tahun kemudian, lahirlah Zainuddin.
Saat Zainuddin masih kecil, ibunya meninggal. Beberapa bulan
kemudian ayahnya menyusul ibunya. Ia diasuh Mak Base, teman ayahnya. Pada suatu
hari, Zainuddin meminta izin Mak Base untuk pergi ke Batipuh, sumbar, mencari
sanak keluarganya di negeri asli ayahnya. Dengan berat hati, Mak Base melepas
Zainuddin pergi.
Sampai di Padang, Zainuddin langsung menuju Negeri Batipuh.
Sesampai di sana, ia begitu gembira, namun lama-lama kabahagiaannya itu hilang
karena semuanya ternyata tak seperti yang ia harpakan. Ia masih dianggap orang
asing, dianggap orang Bugis, orang Mengkasar. Betapa malang dirinya, karena di
negeri ibunya ia juga dianggap orang asing, sementara di Makassar dia juga
dianggap orang asing karena kuatnya adat istiadat pada saat itu. Ia pun jenuh
hidup di batipuh, dan saat itulah ia bertemu Hayati, seorang gadis Minang yang
membuat hatinya gelisah, menjadikannya alasan untuk tetap hidup di sana.
Berawal dari surat-menyurat, mereka pun menjadi semakin dekat dan kahirnya
saling cinta.
Kabar kedekatan mereka tersiar luas dan menjadi bahan gunjingan
semua warga. Karena keluarga Hayati merupakan keturunan terpandang, maka hal
itu menjadi aib bagi keluargany, adat istiadat mengatakan Zainuddin bukanlah
orang Minangkabau, Ibunya berasal dari Makassar. Zainuddin dipanggil oleh mamak
Hayati, dengan alasan demi kemaslahatan Hayati, mamak Hayati menyuruh Zainuddin
pergi meninggalkan Batipuh.
Zainuddin pindah ke Padang Panjang (berjarak sekitar 10 km dari
batipuh) dengan berat hati. Hayati dan Zainuddin berjanji untuk saling setia
dan terus berkiriman surat. Suatu hari, Hayati datang ke Padang Panjang untuk
melihat acara pacuan kuda. Ia menginap di rumah temannya bernama Khadijah. Satu
peluang untuk melepas rasa rindu pun terbayang di benak Hayati dan Zainuddin.
Namun hal itu terhalang oleh adanya pihak ketiga, yaitu Aziz, kakak Khadijah
yang juga tertarik oleh kecantikan Hayati. Karena berada dalam satu kota
(Padang Panjang) akhirnya Zainuddin dan Aziz bersaing dalam mendapatkan cinta
Hayati.
Mak Base meninggal, dan mewariskan banyak harta kepada Zainuddin.
Karena itu ia akhirnya mengirim surat lamaran kepada Hayati di Batipuh.Temyata
surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz. Zainuddin tanpa menyebutkan
harta kekayaan yang dimilikinya, akhirnya ditolak oleh ninik mamak Hayati dan
menerima pinangan Aziz yang di mata mereka lebih beradab, dan asli Minangkabau,
dan Hayatipun akhirnya memilih Aziz sebaagai suaminya. Zainuddin tak kuasa
menerima penolakan tersebut. Apalagi kata sahabatnya, Muluk, Aziz adalah
seorang yang bejat moralnya. Namun apalah dayanya di hadapan ninik mamaknya.
Setelah penolakan dari Hayati, Zainuddin jatuh sakit selama dua bulan.
Atas bantuan dan nasehat Muluk, Zainuddin dapat merubah
pikirannya. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke Jakarta. Di sana Zainuddin mulai
menunjukkan kepandaiannya menulis. Dengan nama samaran "Z", Zainuddin
kemudian berhasil menjadi pengarang yang amat disukai pembacanya. la mendirikan
perkumpulan tonil "Andalas", dan kehidupannya telah berubah menjadi
orang terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di Surabaya
dengan mendirikan penerbitan buku-buku.
Karena pekeriaan Aziz dipindahkan ke Surabaya, Hajati pun
mengikuti suaminya. Suatu kali, Hayati mendapat sebuah undangan dari
perkumpulan sandiwara yang dipimpin dan disutradarai oleh Tuan Shabir atau
"Z". Karena ajakan Hyati Aziz bersedia menonton pertunjukkan itu. Di
akhir pertunjukan baru mereka ketahui bahwa Tuan Shabir atau
"Z"adalah Zainuddin. Hubungan mereka tetap baik, juga hubungan
Zainuddin dengan Aziz.
Semenjak mereka Hijrah ke Surabaya semakin lama watak asli Aziz
semakin terlihat juga. Ia suka berjudi dan main perempuan. Kehidupan
perekonomian mereka makin memprihatinkan dan terlilit banyak hutang. Mereka
diusir dari kontrakan, dan mereka terpaksa menumpang di rumah Zainuddin. Di
balik kebaikan Zainuddin itu, sebenarnya dia masih sakit hati kepada Hayati
yang dulu dianggapnya pernah ingkar janji. Karena tak kuasa menanggung malu
atas kebaikan Zainuddin, setelah sebulan tinggal serumah, Aziz pergi ke
Banyuwangi mencari pekerjaan dan meninggalkan isterinya bersama Zainuddin.
Sepeninggal Aziz, Zainuddin sendiri pun jarang pulang, kecuali untuk tidur.
Beberapa hari
kemudian, diperoleh kabar bahwa Aziz telah menceraikan Hayati. Melalui surat
Aziz meminta supaya Hayati hidup bersama Zainuddin. Dan kemudian datang pula
berita dari sebuah surat kabar bahwa Aziz telah bunuh diri meminum obat tidur
di sebuah hotel di Banyuwangi. Hayati juga meminta maaf kepada Zainuddin dan
rela mengabdi kepadanya. Namun karena masih merasa sakit hati, Zainuddin
menyuruh Hayati pulang ke kampung halamannya saja. Esok harinya, Hayati pulang
dengan menumpang Kapal Van Der Wijck.Setelah Hayati pergi, barulah Zainuddin menyadari bahwa ia tak bisa hidup tanpa Hayati. Apalagi setelah membaca surat Hayati yang bertulis “aku cinta engkau, dan kalau kumati, adalah kematianku di dalam mengenang engkau.” Oleh sebab itulah setelah keberangkatan Hajati ia berniat menyusul Hajati untuk dijadikan isterinya. Zainuddin kemudian menyusul naik kereta api malam ke Jakarta.
Harapan Zainuddin temyata tak tercapai. Kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hajati tenggelam di perairan dekat Tuban. Hajati tak dapat diselamatkan.
Di sebuah rumah sakit di daerah Lamongan, Zainuddin menemukan Hayati yang terbarng lemah sambil memegangi foto Zainuddin. Dan hari itu adalah pertemuan terakhir mereka, karena setelah Hayati berpesan kepada Zainuddin, Hayati meninggal dalam dekapan Zainuddin. Sejak saat itu, Zainuddin menjadi pemenung. Dan tanpa disadari siapapun ia meninggal dunia. Kata Muluk, Zainuddin meninggal karena sakit. Ia dikubur bersebaelahan dengan pusara Hayati.
·
Kebiasaan :
1.) Seorang anak muda umur 19 tahun duduk
termenung sendiri ke laut.
Bukti kutipan:
“Disanalah seorang anak muda yang berusia kira-kira 19 tahun duduk termenung
seorang dirinya menghadapkan mukanya ke laut.”
2.) Ia selalu menceritakan hal yang lama-lama
kepada Zainuddin.
Bukti kutipan:
“Meskipun sudah berulang-ulang dia menceritakan hal yang lama-lama itu kepada
Zainuddin, dia belum juga puas.
3) Ia suka sekali mengajarkan ilmu agama.
Bukti kutipan:
“Mamak masih tetap tinggal di rumah ini mengasuhmu, dan ayahmu berjalan ke
mana-mana, kadang-kadang menjadi guru pencak Padang yang masyhur itu,
kadang-kadang berdukun, dan paling akhir dia suka sekali mengajarkan ilmu
agama.”
4) Ia sering memakai kopiah padang yang amat
disukainya.
Bukti kutipan:
“Dia tak pernah memakai destar lagi, melainkan memakai kopiah Padang yang amat
disukainya, bersarung, berpakaian cara ‘orang siak’ di Padang katanya.”
5) Ia selalu membaca Al Qur’an tengah malam dan
membuaikan Udin dengan nyanyian negeri Padang.
Bukti kutipan:
“’Pertama membaca Alquran tengah malam, kedua membuaikan si Udin dengan
nyanyian negeri sendiri, negeri Padang, Negeri Padang yang kucinta.”
6) Ia biasanya duduk di atas tikar sembahyangnya
dan meminta tobat dari segala dosa yang pernah dilakukannya.
Bukti kutipan:
“Pada suatu malam, petang Kamis malam Jum’at,’ sedang dia duduk di atas tikar
sembahyangnya, bertekun sebagai kebiasaannya, meminta tobat dari segenap dosa,
dia meninggal.”
7) Ia orang yang suka menyisihkan diri ke sawah
dan suka merenungi wajah Merapi.
Bukti kutipan:
“Tetapi dia pemenung, pehiba hati, suka menyisihkan diri ke sawah yang luas,
suka merenungi wajah Merapi yang diam tetapi berkata.”
8) Ia selalu menulis surat yang begitu indah dan
bisa membuka pintu hati manusia untuk Hayati.
Bukti kutipan:
“Tidak perlu Tuan merasa takut lantaran surat Tuan, surat yang begitu indah
susunannya, menarik dan membuka kunci pintu hati manusia.”
9) Zainuddin selalu bermenung sendiri di beranda
surau.
Bukti kutipan: “Bermenung di beranda
surau seorng dirinya, tidak merasai takut dan gentar.”
·
Adat :
1)
Orang zaman dahulu bilang jika kiamat tiba Kara Eng Data akan
muncul kembali di tanah lapang Karibosi.
Bukti kutipan: “ Menurut takhyul orang tua-tua, bilamana hari akan
kiamat, Kara Eng Data aka pulang kembali, di tanah lapang Karibosi akan tumbuh
tujuh batang beringin dan berdiri tujuh buah stana, persemayaman tujuh orang
anak raja-raja, pengiring dari Kara Eng Data.”
2) Hidup anak laki-laki adalah berjuang kalu
sudah melangkah ke depan tidak akan mundur ke belakang walaupun banyak
kesulitan yang dihadapinya.
Bukti kutipan:
“Pepatah orang Mengkasar sudah cukup: ‘anak laki-laki tak boleh dihiraukan
panjang, hidupnya ialah buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke
tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang.”
3) Seorang anak laki-laki yang gagah dan pantas
disebut anak pisang.
Bukti kutipan:
“Seketika dia mengenalkan diri kepada bakonya, orang laksana kejatuhan bintang
dari langit, tidak menyangka-nyangka akan beroleh seorang anak muda yang begitu
gagah dan pantas, yang menurut adat di Minangkabau dinamai “anak pisang”.”
4) Meskipun dia anak Minangkabau tulen tapi masih
dipandang orang pendatang.
Bukti kutipan:
“Jiwanya sendiri mulai merasa bahwa meskipun dia anak Minangkabau tulen, dia
masih di pandang orang pendatang, masih di pandang orang jauh, orang Bugis,
orang Mengkasar.”
5) Melekatkan gelar mesti harus ada
syarat-syaratnya.
Bukti kutipan:
“Melekatkan gelar itu pun mesti membayar hutang kepada negeri, sembelihkan
kerbau dan sapi, panggil ninik mamak dan alim ulama, himbaukan di labuh nan
golong, di pasar nan ramai.”
6) Rumah adat istiadat Minangkabau berbentuk
bergonjong empat, beratap ijuk dan bertatahkan timah.
Bukti kutipan:
“Tidak beberapa jauh dari rumah bakonya itu, ada pula sebuah rumah adat yang
indah dan kokoh, menurut bentuk adat istiadat Minangkabau, bergonjong empat,
beratap ijuk dan bertatahkan timah.”
7) Simbol pedang bersentak yang terletak di bawah
gonjong kiri kanan menandakan orang di
rumah itu amat keras memegang adat lembaga.
Bukti kutipan:
“Pada buatan rumah, pada symbol pedang bersentak yang terletak di bawah gonjong
kiri kanan, menandakan bahwa orang di rumah ini amat keras memegang adat
lembaga, agaknya turunan Regen atau Tuan Gedeng di Batipuh, yang terkembang di
Batipuh Atas dan Batipuh Baruh.”
8) Kalau hari sudah malam ia pergi ke surau
bersama-sama dengan anak muda lain.
Bukti kutipan:
“Bila hari telah malam, dia pergi tidur ke surau, bersama-sama dengan lain-lain
anak muda, karena demikian menurut adat.”
9) Meskipun ia dibawa orang bergaul dia tidak
diberi hak.
Bukti kutipan:
“Meskipun dia dibawa orang bergaul, dia tak diberi hak duduk di kepala rumah
jika terjadi peralatan beradat-adat, sebab dia tidak berhak duduk di situ.”
10) Orang hanya memandang bangsanya saja.
Bukti kutipan:
“Bukanlah orang mencela perangainya, hanya yang dipandang orang kurang ialah
bangsanya.”
11) Amat dicela orang apabila anak laki-laki
berkirim surat kepada perempuan.
Bukti kutipan:
“Ai … barangkali dia salah, barangkali ada perkataan- perkataan janggal dan
kasar terselip dalam surat itu, barangkali … barangkali berkirim surat itu
adalah satu cela paling besa, sebab baik di Minangkabau atau di Mengkasar sekalipun, amat dicela
orang, anak muda yang dikirim surat kepada perempuan.”
·
Etika :
1)
Budi pekerti kita harus baik agar orang-orang suka kepada kita.
Bukti kutipan: “Budi pekerti Pendekar Sutan amat menarik hatinya,
kelakuannya, keberaniannya, dan kadang-kadang pandai berdukun,semuanya
menimbulkan sukanya.”
2) Sebagai makhluk sosial kita harus saling
tolong menolong walaupun tidak ada hubungan saudara.
Bukti kutipan:
“Apa yang aku makan, itulah yang akan dimakan Zainuddin.”
3) Bacalah surat yasin tiap malam untuk orang
terdekat kita yang meninggal.
Bukti kutipan:
“Balasannya hanya satu, bacakan Surat Yasin tiap-tiap malam Jumat kalau mamak
meninggal dunia pula.”
4) Jangan melihat/menilai seseorang dari tempat
dia berasal.
Bukti kutipan:
“Malang nasib anak yang demikian, sebab dalam negeri ibunya dia dipandang orang
asing, dan dalam negeri ayahnya dia dipandang orang asing pula.”
5) Selalu menolong orang lain yakni ini yang
dilakukan oleh Zainuddin terhadap Aziz suaminya Hayati ketika dia meminjam uang
kepada Zainuddin.
Bukti kutipan:
“Dengan muka yang tabal, tak mengenal kesalahan-kesalahan yang lama, sudah dua
tiga kali dia meminjam uang kepada Zainuddin.”
6) Ia tidak dendam kepada sahabatnya meskipun sahabatnya
sudah melukai hatinya.
Bukti kutipan:
“Kedatangan mereka diterima oleh Zainuddin dan muluk dengan hati bersih dan
suci, penerimaan sahabat kepada sahabatnya.”
7) Kita harus jadi orang yang setia.
Bukti kutipan: “Ingat, dan selamanya
dia tak akan lupa. Tetapi … Hayati yang dicintainya itu telah hilang."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar