Kamis, 01 Maret 2018

Contoh Novel Angkatan 20 dan 30



a.     Novel Angkatan 20
Salah Pilih
Karya : Nur Sutan Iskandar
Di sebuah daerah bernama sungai batang. Asnah tinggal bersama ibu Mariati, di sebuah rumah gedang. Asnah merupakan anak yang cantik, dan juga baik hati sehingga tak heran apabila ia disenangi oleh semua orang, baik ibu Mariati maupun para tetangga yang seringkali datang ke rumah gedang tersebut. Disana ia diperlakukan selayaknya anak kandungnya sendiri oleh ibu Mariati. Meskipun Asnah adalah anak angkat ibu Mariati, namun ia sangat sayang kepada Asnah. Begitu pula Asnah yang juga sangat menyayangi ibu Mariati. Asnah sangat berbakti kepada ibu Mariati, ia senantiasa ada saat sembuh maupun saat sakit. Asnah merupakan pelipur lara bagi ibu Mariati.
Selain Asnah, ibu Mariati mempunyai seorang anak yang bernama Asri. Asri adalah seorang pemuda yang tampan, pintar dan juga ramah. Tak heran apabila semua warga juga pun sangat menghormati dan menyukainya. Sama halnya dengan ibu Mariati, Asri juga sangat menyayangi Asnah. Asnah selalu menjadi obat dikala ia sakit, dan hanya Asnahlah yang sangat mengerti akan perasaan Asri.
Di rumah gedang tersebut juga tinggal siti Maliah seorang pembantu yang sudah lama berada dalam rumah itu dan telah dianggap sebagai saudara sendiri oleh ibu Mariati. Siti Maliah pun juga sangat menyayangi Asnah karena sikap dan perilaku Asnah yang baik.
Sebenarnya sudah sejak lama Asnah memendam perasaannya terhadap Asri. Kini Asri tengah berada di Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya. Namun perasaan Asnah tidak pernah berubah terhadap Asri. Ia tetap mencintai Ari dengan segenap jiwanya. Namun, Asnah sadar bahwa perasaannya tersebut tidak pantas ia ungkapkan pada kakaknya tersebut. Meskipun hanya sekedar adik angkat, namun adat menentang sebuah percintaan antara sesame suku. Begitulah adat yang aberlaku di daerah tersebut.
Ketika suatu hari Asri pulang ke rumahnya, keadaan ibu Mariati lama kelamaan membaik, dan berangsur sembuh. Ibu Mariati sangat senang akan kedatangan Asri dan meminta kepada anaknya tersebut untuk tidak kembali ke Jakarta dan mencari pekerjaan di daerahnya saja, lantaran keadaan bu Mariati yang seringkali jatuh sakit karena usia yang tua. Dengan berat hati akhirnya Asri menuruti kemauan ibunya untuk tinggal di rumah gedang tersebut. Asnah tahu bahwa Asri sebenarnya sangat sedih karena tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Namun, berkat sikap Asnah, akhirnya Asri pun adapat menerima semua itu karena nasihat-nasihat yang diberikan oleh adiknya tersebut. Asnah mencoba memendam semua perasaannya saat bertemu dengan Asri. Dia tak ngin Asri tahu akan perasaannya yang demikian tersebut.
Asnah sangat gembira saat mengetahui Asri akan tinggal di rumah tersebut. Namun, ada satu hal yang membuat ia kecewa, yakni ibu Mariati menyuruh Asri untuk segera menikah. Asri pun menuruti kembali apa yang ibunya inginkan. Ia pun mulai mencari gadis yang tepat yang kelak akan menjadi istrinya. Lalu dipilih-pilihlah wanita di Negerinya yang belum menikah. Akhirnya Asri menemukan seorang gadis yang dianggap cocok untuk menjadi pendampingnya kelak. Gadis itu adalah Saniah. Keinginannya melamar saniah bukanlah tanpa alasan. Asri lebih dahulu tertarik kepada kakak Saniah, yaitu Rusiah. Rusiah adalah seorang perempuan yang baik hatinya, dan lembut perangainya. Namun ketika Asri bersekolah di Bukittinggi, ternyata Rusiah dikawinkan dengan seorang laki-laki bernama Sutan Sinaro. Jadi Asri memutuskan untuk meminang Saniah karena dirasa bahwa Saniah pun tak akan jauh beda dengan kakaknya, baik rupa ataupun perangainya.
Sampai suatu saat Asri bersama-sama ibunya memutuskan untuk bertamu ke rumah keluarga Saniah. Keluarga itu adalah keluarga orang terpandang, keluarga seorang bangsawan kaya dan terpelajar. Walaupun ibu gadis tersebut memiliki perilaku yang kaku dan cenderung angkuh, namun Asri yakin bahwa Saniah tentunya berperilaku lain dengan ibunya.
Tak berapa lama, Asri memutuskan memilih Saniah sebagai calon istrinya. Mereka berdua melaksanakan acara pertunangan terlebih dahulu. Saat pertunangan, Saniah benar-benar menampakkan perilakunya yang sangat baik, ia pun hormat terhadap seluruh keluarga Asri. Perilaku demikian itu membuat Asri semakin yakin dengan pilihannya itu. Tak lama, dilangsungkanlah upacara perkawinan Asri dengan Saniah yang sangat meriah.
Setelah menikah, mereka berdua lalu pindah ke Rumah Gedang milik keluarga Asri. Dari situlah diketuahui bahwa peerilaku Saniah tidaklah seelok yang dia perlihatkan saat sebelum menikah. Saniah begitu memandang rendah Asnah, hanya karena Asnah adalah anak angkat. Dia merasa bahwa tidak sepatutnya Asnah disejajarkan dengan dirinya yang berasal dari kaum bangsawan. Ternyata, perilaku Saniah begitu angkuh, berbeda dengan yang dia perlihatkan sebelum menikah dahulu. Saniah begitu sering menyindir, bersikap bengis, bahkan mencaci maki yang begitu menyakitkan hati Asnah. Bahkan terhadap mertuanya pun, Saniah bersikap tidak sopan. Namun Asnah adalah seorang gadis tegar dan sabar yang mempunyai hati lapang, dia tidak  pernah membalas perlakuan buruk dari iparnya itu.
Setelah menikah, sifat buruk Saniah semakin menjadi. Bahkan sekarang dia berani melawan suaminya, kerap kali ia juga berkata-kata kasar terhadap suaminya. Sehingga dapat dilihat kalau sifat Saniah tak jauh beda dengan ibunya, Rangkayo Saleah. Suatu hari Saniah pulang ke rumah orang tuanya saat itu Sidi Sutan, pembantunya datang menjemput. Yang semula bermaksud menjemput Saniah dan Asri, namun karena pertengkaran itu, jadilah Saniah pulang sendiri tanpa didampingi oleh suaminya.
Rangkayo Saleah mendapat kabar bahwa anak laki-lakinya, Kaharuddin akan menikah dengan seorang perempuan, anak seorang saudagar batik di kota Padang. Ia pun sangat  marah. Karena menganggap gadis tersebut tidak sesuai dengan pilihannya. Sementara Dt. Indomo ayah Kaharuddin, dan juga ayah Saniah, merasa tidak setuju dengan pendapat istrinya itu. Ia menganggap bahwa kebahagian anaknya adalah yang utama. Namun suaminya tersebut pun tidak berdaya akibat keangkuhan Rangkayo Saleah.
Namun Rangkayo Saleah tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak menyetujui pernikahan Kaharuddin. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke Padang untuk mnentang pernikahan Kaharuddin. Saniah yang berada di rumahnya setelah Sidi Sutan menjemputnya dari rumah Gedang diajaknya untuk pergi ke kota Padang. Di tengah jalan, kendaraan yang mereka tumpangi sempat berhenti. Lalu sejenak Saniah memandang negeri yang ia tinggallkan. Namun entah mengapa, begitu banyak yang ia ingat saat ia memandang Rumah Gedang yang nampak jelas terlihat dikejauhan. Tiba-tiba ia teringat akan suaminya, yang begitu sayang terhadapnya, ia telah durhaka terhadap suaminya, teringat ia akan dosa-dosa yang telah ia perbuat terhadap Asnah.
Setelah lama  memandang, seakan-akan ia akan pergi jauh. Lalu dilanjutkannyalah perjalanan mereka. Rangkayo Saleah menyuruh sang sopir untuk mengebut agar cepat sampai. Sang sopir pun begitu senang ketika Rangkayo Saleah menyuruhnya untuk memacu kendaraannya dengan cepat. Karena baginya inilah saatnya untuk memperlihatkan kelihaiannya dalam mengendalikan mobil, walaupun jalanan berkelok tajam, juga tebingnya yang begitu curam.
Namun yang terjadi, sang sopir kehilangan kendalinya, dan mobil yang dikendalikannya itu jatuh terbalik dan masuk ke dalam sungai yang kering airnya. Rangkayo Saleah meninggal di tempat kejadian, sementara Saniah yang masih bernafas segera diselamatkan orang-orang dan dibawa ke rumah sakit. Namun, karena kecelakaan yang dialaminya begitu parah, akhirnya Saniah pun meninggal dunia setelah sempat bertemu dan meminta maaf kepada suaminya.
Begitu banyak lamaran datang kepada Asri setelah istrinya meninggal. Namun, dia tak ingin salah pilih lagi. Ia memutuskan kalaupun ia hendak menikah lagi, ia hanya akan menikah dengan orang yang sudah sangat dikenal oleh dirinya dan dapat menjadi kawan yang selalu ada dalam susah, sedih, senang dan gembira, yaitu Asnah. Ia tak ingin salah pilih lagi karena ia yakin bahwa Asnah lah satu-satunya perempuan terbaik bagi dirinya. Akhirnya ia pun mendatangi rumah Asnah dan mengutarakan niatnya untuk menikah denga Asnah secara diam-diam. Karena mereka tahu bahwa pernikahan mereka pastilah di tentang oleh masyarakat di daerh mereka yang tidak membenarkan adanya suatu pernikahan sesama suku.
Adat tersebut mengatakan bahwa jika ada yang menikah dengan saudara sesuku maka konsekuensinya mereka hrus di usir dar daerah tersebut. Asri pun berpikir, daripada ia harus mengikuti adat yang bertentangan dengan hati nuraninya serta harus kehilangan orang yang dicintainya, ia pun memutuskan untuk membawa Asnah pergi meninggalkalkan Minangkabau. Ia pun rela melepaskan pekerjaannya sebagai seorang Sutan Bendahara. Mereka memutuskan untuk pergi ke Jawa.
Saat berada di Jawa, kehidupan mereka disana tidak begitu cukup. Mereka pun banyak dijauhi oleh orang-orang sekampung mereka yang kebetulan sama-sama tinggal di Jawa. Namun karena usaha keras dan kesabaran hati mereka, akhirnya Asri mendapatkan pekerjaan yang layak  dan yang terpenting, Asri mendapatkan kebahagian bersama Asnah.
Beberapa tahun kemudian Asri mendapat surat dari kampung halamannya untuk pulang. Penduduk kampung telah kehilangan sosok cerdas seperti Asri yang dapat memajukan kampung mereka. Akhirnya Asnah dan Asri pun pulang ke kampung halaman. Di sana mereka disambut bagai seorang Raja. Asnah sangat bahagia karena dapat bertemu dengan keluarganya dan tetangganya di rumah gedang tersebut.begitu pula dengan Asri yang siap membawa kemajuan untuk kampungnya.
·         Kebiasaan        : 
1.)    Ditambahnya panggilan Mak Cik pada awal nama.
Bukti kutipan: “Sementara pembantu itu bernama Liah dan dua anak itu biasa memanggilnya Mak Cik Lia.”
2.)    Terbiasa jujur dalam satu keluarga.
Bukti kutipan:  “Mereka terbiasa jujur satu sama lain, bahkan Asnah mengetahui rahasia kakaknya yang tidak diketahui sang bunda, begitu juga sebaliknya.”
·         Etika                :
1)      Asri menghormati adat dari ibunya.
Bukti kutipan:  “...karena Asri sudah terbiasa dengan pendidikan luar yang bebas. Ia sangat menghormati adat...”
2)      Penyambutan meriah oleh warga untuk orang yang berjasa.
Bukti kutipan:   pada kalimat: “Setibanya di Maninjau, mereka disambut meriah oleh warga yang sangat menghormati Asri atas jasa-jasanya sebelum ia merantau dulu dan atas kelembutan tabiat Asnah
·         Adat                 :
1)      Dilarang menikah jika pasangan sesama suku.
Bukti kutipan: “Gadis itu sangat terpukul ketika sang ibu meminta anak lelakinya untuk segera menikah, dia tahu bukan ia yang akan menjadi pendamping Asri karena adat melarang pernikahan sesuku seperti mereka.” 
2)      Adat yang dilakukan pasangan Asri dan saniah dengan adat Minangkabau.
Bukti kutipan: “Mereka bertunangan lalu menikah setelah melewati beberapa adat Minangkabau.” 
3)      Dilarang menikah jika suatu pasangan sedarah.
Bukti kutipan: “Wanita itu juga menjelaskan adat Minang yang tidak melarang Asri dan Asnah menikah karena mereka tidak sedarah.”
4)      Jika suatu pasangan tidak meninggalkan daerah asal mereka akan dikeluarkan secara tidak hormat.
Bukti kutipan: “Ia memutuskan menikah dengan Asnah dan meninggalkan segala harta dan jabatannya untuk merantau ke Jawa, karena jika tidak pergi dari situ, maka keduanya akan dikeluarkan dari suku secara tidak hormat.”

b.     Novel Angkatan 30
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Karya : Hamka
Di Negeri Batipuh Sapuluh Koto (Padang panjang) , seorang pemuda bergelar Pendekar Sutan, kemenakan Datuk Mantari Labih, yang merupakan pewaris tunggal harta peninggalan ibunya. Karena tak bersaudara perempuan, maka harta bendanya diurus oleh  mamaknya. Datuk Mantari labih hanya bisa menghabiskan harta tersebut, sedangkan untuk kemenakannya tak boleh menggunakannya. Hingga suatu hari, ketika Pendekar Sutan ingin menikah namun tak diizinkan menggunakan hartany atersebut, terjadilah pertengkaran yang membuat Datuk Mantari labih terbunuh. Pendekar Sutan ditangkap, saat itu ia baru berusia 15 tahun. Ia dibuang ke Cilacap, kemudian dibawa ke Tanah Bugis. Karena Perang Bone, akhirnya ia sampai di Tanah Mengkasar. Beberapa tahun berjalan, Pendekar Sutan bebas dan menikah dengan Daeng Habibah, putri seorang penyebar agama islam keturunan Melayu. Empat tahun kemudian, lahirlah Zainuddin.
Saat Zainuddin masih kecil, ibunya meninggal. Beberapa bulan kemudian ayahnya menyusul ibunya. Ia diasuh Mak Base, teman ayahnya. Pada suatu hari, Zainuddin meminta izin Mak Base untuk pergi ke Batipuh, sumbar, mencari sanak keluarganya di negeri asli ayahnya. Dengan berat hati, Mak Base melepas Zainuddin pergi.
Sampai di Padang, Zainuddin langsung menuju Negeri Batipuh. Sesampai di sana, ia begitu gembira, namun lama-lama kabahagiaannya itu hilang karena semuanya ternyata tak seperti yang ia harpakan. Ia masih dianggap orang asing, dianggap orang Bugis, orang Mengkasar. Betapa malang dirinya, karena di negeri ibunya ia juga dianggap orang asing, sementara di Makassar dia juga dianggap orang asing karena kuatnya adat istiadat pada saat itu. Ia pun jenuh hidup di batipuh, dan saat itulah ia bertemu Hayati, seorang gadis Minang yang membuat hatinya gelisah, menjadikannya alasan untuk tetap hidup di sana. Berawal dari surat-menyurat, mereka pun menjadi semakin dekat dan kahirnya saling cinta.
Kabar kedekatan mereka tersiar luas dan menjadi bahan gunjingan semua warga. Karena keluarga Hayati merupakan keturunan terpandang, maka hal itu menjadi aib bagi keluargany, adat istiadat mengatakan Zainuddin bukanlah orang Minangkabau, Ibunya berasal dari Makassar. Zainuddin dipanggil oleh mamak Hayati, dengan alasan demi kemaslahatan Hayati, mamak Hayati menyuruh Zainuddin pergi meninggalkan Batipuh.
Zainuddin pindah ke Padang Panjang (berjarak sekitar 10 km dari batipuh) dengan berat hati. Hayati dan Zainuddin berjanji untuk saling setia dan terus berkiriman surat. Suatu hari, Hayati datang ke Padang Panjang untuk melihat acara pacuan kuda. Ia menginap di rumah temannya bernama Khadijah. Satu peluang untuk melepas rasa rindu pun terbayang di benak Hayati dan Zainuddin. Namun hal itu terhalang oleh adanya pihak ketiga, yaitu Aziz, kakak Khadijah yang juga tertarik oleh kecantikan Hayati. Karena berada dalam satu kota (Padang Panjang) akhirnya Zainuddin dan Aziz bersaing dalam mendapatkan cinta Hayati.
Mak Base meninggal, dan mewariskan banyak harta kepada Zainuddin. Karena itu ia akhirnya mengirim surat lamaran kepada Hayati di Batipuh.Temyata surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz. Zainuddin tanpa menyebutkan harta kekayaan yang dimilikinya, akhirnya ditolak oleh ninik mamak Hayati dan menerima pinangan Aziz yang di mata mereka lebih beradab, dan asli Minangkabau, dan Hayatipun akhirnya memilih Aziz sebaagai suaminya. Zainuddin tak kuasa menerima penolakan tersebut. Apalagi kata sahabatnya, Muluk, Aziz adalah seorang yang bejat moralnya. Namun apalah dayanya di hadapan ninik mamaknya. Setelah penolakan dari Hayati, Zainuddin jatuh sakit selama dua bulan.
Atas bantuan dan nasehat Muluk, Zainuddin dapat merubah pikirannya. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke Jakarta. Di sana Zainuddin mulai menunjukkan kepandaiannya menulis. Dengan nama samaran "Z", Zainuddin kemudian berhasil menjadi pengarang yang amat disukai pembacanya. la mendirikan perkumpulan tonil "Andalas", dan kehidupannya telah berubah menjadi orang terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di Surabaya dengan mendirikan penerbitan buku-buku.
Karena pekeriaan Aziz dipindahkan ke Surabaya, Hajati pun mengikuti suaminya. Suatu kali, Hayati mendapat sebuah undangan dari perkumpulan sandiwara yang dipimpin dan disutradarai oleh Tuan Shabir atau "Z". Karena ajakan Hyati Aziz bersedia menonton pertunjukkan itu. Di akhir pertunjukan baru mereka ketahui bahwa Tuan Shabir atau "Z"adalah Zainuddin. Hubungan mereka tetap baik, juga hubungan Zainuddin dengan Aziz.
Semenjak mereka Hijrah ke Surabaya semakin lama watak asli Aziz semakin terlihat juga. Ia suka berjudi dan main perempuan. Kehidupan perekonomian mereka makin memprihatinkan dan terlilit banyak hutang. Mereka diusir dari kontrakan, dan mereka terpaksa menumpang di rumah Zainuddin. Di balik kebaikan Zainuddin itu, sebenarnya dia masih sakit hati kepada Hayati yang dulu dianggapnya pernah ingkar janji. Karena tak kuasa menanggung malu atas kebaikan Zainuddin, setelah sebulan tinggal serumah, Aziz pergi ke Banyuwangi mencari pekerjaan dan meninggalkan isterinya bersama Zainuddin. Sepeninggal Aziz, Zainuddin sendiri pun jarang pulang, kecuali untuk tidur.
Beberapa hari kemudian, diperoleh kabar bahwa Aziz telah menceraikan Hayati. Melalui surat Aziz meminta supaya Hayati hidup bersama Zainuddin. Dan kemudian datang pula berita dari sebuah surat kabar bahwa Aziz telah bunuh diri meminum obat tidur di sebuah hotel di Banyuwangi. Hayati juga meminta maaf kepada Zainuddin dan rela mengabdi kepadanya. Namun karena masih merasa sakit hati, Zainuddin menyuruh Hayati pulang ke kampung halamannya saja. Esok harinya, Hayati pulang dengan menumpang Kapal Van Der Wijck.
Setelah Hayati pergi, barulah Zainuddin menyadari bahwa ia tak bisa hidup tanpa Hayati. Apalagi setelah membaca surat Hayati yang bertulis “aku cinta engkau, dan kalau kumati, adalah kematianku di dalam mengenang engkau.” Oleh sebab itulah setelah keberangkatan Hajati ia berniat menyusul Hajati untuk dijadikan isterinya. Zainuddin kemudian menyusul naik kereta api malam ke Jakarta.

Harapan Zainuddin temyata tak tercapai. Kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hajati tenggelam di perairan dekat Tuban. Hajati tak dapat diselamatkan.
Di sebuah rumah sakit di daerah Lamongan, Zainuddin menemukan Hayati yang terbarng lemah sambil memegangi foto Zainuddin. Dan hari itu adalah pertemuan terakhir mereka, karena setelah Hayati berpesan kepada Zainuddin, Hayati meninggal dalam dekapan Zainuddin. Sejak saat itu, Zainuddin menjadi pemenung. Dan tanpa disadari siapapun ia meninggal dunia. Kata Muluk, Zainuddin meninggal karena sakit. Ia dikubur bersebaelahan dengan pusara Hayati.
·         Kebiasaan           :
1.)    Seorang anak muda umur 19 tahun duduk termenung sendiri ke laut. 
Bukti kutipan: “Disanalah seorang anak muda yang berusia kira-kira 19 tahun duduk termenung seorang dirinya menghadapkan mukanya ke laut.”
2.)    Ia selalu menceritakan hal yang lama-lama kepada Zainuddin.
Bukti kutipan: “Meskipun sudah berulang-ulang dia menceritakan hal yang lama-lama itu kepada Zainuddin, dia belum juga puas.
3)      Ia suka sekali mengajarkan ilmu agama.
Bukti kutipan: “Mamak masih tetap tinggal di rumah ini mengasuhmu, dan ayahmu berjalan ke mana-mana, kadang-kadang menjadi guru pencak Padang yang masyhur itu, kadang-kadang berdukun, dan paling akhir dia suka sekali mengajarkan ilmu agama.”
4)      Ia sering memakai kopiah padang yang amat disukainya.
Bukti kutipan: “Dia tak pernah memakai destar lagi, melainkan memakai kopiah Padang yang amat disukainya, bersarung, berpakaian cara ‘orang siak’ di Padang katanya.”
5)      Ia selalu membaca Al Qur’an tengah malam dan membuaikan Udin dengan nyanyian negeri Padang.
Bukti kutipan: “’Pertama membaca Alquran tengah malam, kedua membuaikan si Udin dengan nyanyian negeri sendiri, negeri Padang, Negeri Padang yang kucinta.”
6)      Ia biasanya duduk di atas tikar sembahyangnya dan meminta tobat dari segala dosa yang pernah dilakukannya.
Bukti kutipan: “Pada suatu malam, petang Kamis malam Jum’at,’ sedang dia duduk di atas tikar sembahyangnya, bertekun sebagai kebiasaannya, meminta tobat dari segenap dosa, dia meninggal.”
7)      Ia orang yang suka menyisihkan diri ke sawah dan suka merenungi wajah Merapi.
Bukti kutipan: “Tetapi dia pemenung, pehiba hati, suka menyisihkan diri ke sawah yang luas, suka merenungi wajah Merapi yang diam tetapi berkata.”
8)      Ia selalu menulis surat yang begitu indah dan bisa membuka pintu hati manusia untuk Hayati.
Bukti kutipan: “Tidak perlu Tuan merasa takut lantaran surat Tuan, surat yang begitu indah susunannya, menarik dan membuka kunci pintu hati manusia.”
9)      Zainuddin selalu bermenung sendiri di beranda surau.
Bukti kutipan: “Bermenung di beranda surau seorng dirinya, tidak merasai takut dan gentar.”
·         Adat                 :
1)      Orang zaman dahulu bilang jika kiamat tiba Kara Eng Data akan muncul kembali di tanah lapang Karibosi.
Bukti kutipan: “ Menurut takhyul orang tua-tua, bilamana hari akan kiamat, Kara Eng Data aka pulang kembali, di tanah lapang Karibosi akan tumbuh tujuh batang beringin dan berdiri tujuh buah stana, persemayaman tujuh orang anak raja-raja, pengiring dari Kara Eng Data.”
2)      Hidup anak laki-laki adalah berjuang kalu sudah melangkah ke depan tidak akan mundur ke belakang walaupun banyak kesulitan yang dihadapinya.
Bukti kutipan: “Pepatah orang Mengkasar sudah cukup: ‘anak laki-laki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang.”
3)      Seorang anak laki-laki yang gagah dan pantas disebut anak pisang.
Bukti kutipan: “Seketika dia mengenalkan diri kepada bakonya, orang laksana kejatuhan bintang dari langit, tidak menyangka-nyangka akan beroleh seorang anak muda yang begitu gagah dan pantas, yang menurut adat di Minangkabau dinamai “anak pisang”.”
4)      Meskipun dia anak Minangkabau tulen tapi masih dipandang orang pendatang.
Bukti kutipan: “Jiwanya sendiri mulai merasa bahwa meskipun dia anak Minangkabau tulen, dia masih di pandang orang pendatang, masih di pandang orang jauh, orang Bugis, orang Mengkasar.”
5)      Melekatkan gelar mesti harus ada syarat-syaratnya.
Bukti kutipan: “Melekatkan gelar itu pun mesti membayar hutang kepada negeri, sembelihkan kerbau dan sapi, panggil ninik mamak dan alim ulama, himbaukan di labuh nan golong, di pasar nan ramai.”


6)      Rumah adat istiadat Minangkabau berbentuk bergonjong empat, beratap ijuk dan bertatahkan timah.
Bukti kutipan: “Tidak beberapa jauh dari rumah bakonya itu, ada pula sebuah rumah adat yang indah dan kokoh, menurut bentuk adat istiadat Minangkabau, bergonjong empat, beratap ijuk dan bertatahkan timah.”
7)      Simbol pedang bersentak yang terletak di bawah gonjong kiri kanan  menandakan orang di rumah itu amat keras memegang adat lembaga.
Bukti kutipan: “Pada buatan rumah, pada symbol pedang bersentak yang terletak di bawah gonjong kiri kanan, menandakan bahwa orang di rumah ini amat keras memegang adat lembaga, agaknya turunan Regen atau Tuan Gedeng di Batipuh, yang terkembang di Batipuh Atas dan Batipuh Baruh.”
8)      Kalau hari sudah malam ia pergi ke surau bersama-sama dengan anak muda lain.
Bukti kutipan: “Bila hari telah malam, dia pergi tidur ke surau, bersama-sama dengan lain-lain anak muda, karena demikian menurut adat.”
9)      Meskipun ia dibawa orang bergaul dia tidak diberi hak.
Bukti kutipan: “Meskipun dia dibawa orang bergaul, dia tak diberi hak duduk di kepala rumah jika terjadi peralatan beradat-adat, sebab dia tidak berhak duduk di situ.”
10)  Orang hanya memandang bangsanya saja.
Bukti kutipan: “Bukanlah orang mencela perangainya, hanya yang dipandang orang kurang ialah bangsanya.”
11)  Amat dicela orang apabila anak laki-laki berkirim surat kepada perempuan.
Bukti kutipan: “Ai … barangkali dia salah, barangkali ada perkataan- perkataan janggal dan kasar terselip dalam surat itu, barangkali … barangkali berkirim surat itu adalah satu cela paling besa, sebab baik di Minangkabau  atau di Mengkasar sekalipun, amat dicela orang, anak muda yang dikirim surat kepada perempuan.”

·         Etika                :
1)      Budi pekerti kita harus baik agar orang-orang suka kepada kita.
Bukti kutipan: “Budi pekerti Pendekar Sutan amat menarik hatinya, kelakuannya, keberaniannya, dan kadang-kadang pandai berdukun,semuanya menimbulkan sukanya.”
2)      Sebagai makhluk sosial kita harus saling tolong menolong walaupun tidak ada hubungan saudara.
Bukti kutipan: “Apa yang aku makan, itulah yang akan dimakan Zainuddin.”
3)      Bacalah surat yasin tiap malam untuk orang terdekat kita yang meninggal.
Bukti kutipan: “Balasannya hanya satu, bacakan Surat Yasin tiap-tiap malam Jumat kalau mamak meninggal dunia pula.”
4)      Jangan melihat/menilai seseorang dari tempat dia berasal.
Bukti kutipan: “Malang nasib anak yang demikian, sebab dalam negeri ibunya dia dipandang orang asing, dan dalam negeri ayahnya dia dipandang orang asing pula.”
5)      Selalu menolong orang lain yakni ini yang dilakukan oleh Zainuddin terhadap Aziz suaminya Hayati ketika dia meminjam uang kepada Zainuddin.
Bukti kutipan: “Dengan muka yang tabal, tak mengenal kesalahan-kesalahan yang lama, sudah dua tiga kali dia meminjam uang kepada Zainuddin.”
6)      Ia tidak dendam kepada sahabatnya meskipun sahabatnya sudah melukai hatinya.
Bukti kutipan: “Kedatangan mereka diterima oleh Zainuddin dan muluk dengan hati bersih dan suci, penerimaan sahabat kepada sahabatnya.”
7)      Kita harus jadi orang yang setia.
Bukti kutipan: “Ingat, dan selamanya dia tak akan lupa. Tetapi … Hayati yang dicintainya itu telah hilang."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kesan Pesan PKKP 2022

Halo teman-teman!  Pada kesempatan kali ini, aku mau memberi kesan pesan terhadap kegiatan PKKP 2022. Sebenarnya, aku adalah mahasiswa angka...