Kamis, 01 Maret 2018

Ringkasan Novel "Kado Tak Bertuan"



Kado Tak Bertuan
Karya : Nur Afni Seliana

     Liburan sekolah telah tiba, aku dan keluargaku pergi kerumah nenek. Kakakku yang seharusnya kuliah di Bandung, Mas Irfan namanya.Baru sekarang, ia ikut berlibur ke Desa Bojongpicung, Cianjur.
     Sudah empat hari aku berada di rumah nenek. Di sini suasananya saat sejuk. Apalagi disaat matahari ingin muncul, anginnya sangat sejuk. Saat sedang asik memandangi langit, tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Terdengar suara yang tak asing bagiku. Yap, itu Mas Irfan. Ia hanya ingin memasktikan kalau aku sudah sholat, tapi kenyataannya belum. Ia memintaku untuk sholat berjamaah dengan Mas Dicky. Mas Irfan selalu menginginkan aku dan Mas Dicky menjadi rukun, sehingga memintaku untuk sholat berjamaah dengannya. Sebenarnya aku enggan, tetapi karena ini permintaan Mas Irfan, ya sudahlah.
     Sebelum mengambil wudhu, aku ingin basa basi dengan ayah dan ibu dengan menanyakan apakah mereka sudah sholat atau belum, kalau belum aku ingin mengajak mereka untuk sholat berjamaah juga. Tapi, nasib yang kurang baik berada di dekatku. Mereka sudah sholat, dan mereka meminta ku untuk sholat berjamaah dengan Mas Dicky, sama seperti permintaan Mas Irfan.
     Tak terasa tinggal hari ini dan besok kami berlibur. Tetapi aku masih ingin tetap di sini karena pemandangan di sini jauh lebih indah dibandingkan dengan Jakarta. Selain itu, aku juga selalu ingin bersama dengan Mas Irfan.
     Mentari benar-benar sudah terbit, waktu pun sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Penciumanku sudah tersambar dengan wangi getuk yang ada di meja makan. Getuk itu kami jadikan sarapan untuk pagi ini. Saat aku ingin mengambil 1 untukku, tiba-tiba Mas Dicky langsung mengambil getuk yang ingin ku ambil juga. Akupun menjadi marah dan tanpa sadar aku melempar getuk yang lain ke wajah Mas Dicky. Kami perang mulut. Belum sempat ia lemparkan getuknya kepadaku,  perbuatan kami diketahui oleh ayah dan ibu.
     Ayah mencoba melerai dan menahan tangan Mas Dicky sambil mengancam kami agar diberi hukuman seperti waktu itu. Hukuman waktu itu adalah tidak boleh menonton TV selama satu minggu penuh karena kami berebut an channel TV. Ibu juga berkomentar, tetapi lebih tenang disbanding ayah.
     Karena sudah terlalu banyak komentar yang mereka sampaikan, aku berinisiatif untuk meminta maaf kepada Mas Dicky agar mereka berhenti berkomentar. Aku tidak mau ayah memberikanku hukuman lagi.
     Saat sarapan, aku terus menatapnya dengan sinis. Tapi ia malah terlihat biasa-biasa saja dan sepertinya sudah melupakan masalah yang baru saja terjadi tadi. Karena melihat wajahnya yang seperti itu, amarahku mulai meredam dan akupun mulai lega.
     Matahari  mulai berarah kesebelah barat. Menandakan waktu akan menjadi senja. Akupun ingin bersiap-siap untuk mandi. Dari kejauhan, terdengar perbincangan antar ibu dan Mas Irfan yang sedang mendiskusikan tentang pertimbangan Mas Irfan bolos hanya untuk berliburan bersama keluarga. Lalu aku meninggalkan percakapan tersebut dan aku pergi ke kamar mandi.
    Tanpa kuketahui, Mas Irfan dan Ibu membuat satu rencana. Saat pulang nanti, aku, Mas Dicky dan Mas Irfan satu mobil di mobil Mas Irfan. Sedangkan ibu dan ayah akan memakai mobil ayah. Mereka berdua merencanakan ini agar aku dan Mas Dicky dapat menjadi akrab satu sama lain.
     Malam sebelum kami kembali ke Jakarta, aku menawarkan diri untuk ikut mobil Mas Irfan dan Mas Dicky pun ikut ke mobil Mas Irfan tanpa dipintah ibu ataupun Mas Irfan.
     Keesokan paginya, kami langsung berangkat. Seperti perjanjian semalam, aku dan Mas Dicky berada di mobil Mas Irfan. Di perjalanan, Mas Dicky tak seperti biasanya. Ia selalu senang ketika aku dan Mas Irfan mengajaknya bercanda, ridak seperti biasanya. Meskipun begitu, aku tetap senang dengan perubahannya itu.
     Sesampainya di Jakarta, aku hanya beristirahat untuk mempersiapkan diriku saat sekolah nanti.
     Senin telah menyapa. Aku bersiap-siap untuk dating ke sekolah. Saat sampai di sekolah, ternyata aku ditunjuk oleh Bu Neni untuk menjadi pemimpin upacara. Tetapi yang selalu menjadi pemimpin upacarakan Melan. “ia sudah ibu cari kemana-mana tapi tidak ada,” jawab Bu Neni. Terpaksa dengan tak enak hati dengan Melan, aku harus menjadi pemimpin upacara.
     Saat aku masuk kelas, Melan sudah ada di kelas dengan wajah agak kecewa. Ku rasa itu karena aku menggantikan posisinya sebagai pemimpin upacara. Saat berbincang dengannya, bel yang menandakan waktu belajar telah berbunyi.
     Setelah melewati berbagai pelajaran, bel istirahat telah berbunyi. Putri, teman kelas sebelahku menghampiriku. Katanya, aku dipanggil oleh Bu Maryam, guru agama islam.
     Bu Maryam memanggilku karena aku telah dipilih olehnya dan juga bapak Kepala Sekolah untuk mengikuti lomba menulis cerpen islami se-Jakarta. Perlombaannya juga dimulai pada hari Sabtu minggu ini. Aku berfikir kalau aku belum mampu untuk melakukan hal tersebut.
     Bel pulang sekolah berbunyi, aku masih saja memikirkan tentang perlombaan itu. Aku sudah 10 menit menunggu mobil jemputan, tapi belum datang juga. Jadi, aku memutuskan untuk naik angkot di depan setelah pertigaan.
     Ketika melewati jalanan yang begitu sepi, aku merasa ada yang mengikutiku. Dengan berani, aku bertanya kepadanya untuk apa mengikutiku dengan nada marah. Setelah ia buka helm, ternyata itu adalah Mas Dicky. Aku baru ingat kalau dia baru saja dibelikan motor baru oleh ayah karena ulang tahunnya yang ke -17. Ia sengaja menyuruh supir yang menjemputku agar tidak menjemputku. Aku merasa kesal dengan Mas Dicky, tapi aku juga merasa senang karena Mas Dicky sudah mengajakku untuk bergurau bersama. Ia juga memberikan pendapat dan semangatnya kepadaku tentang perlombaan cerpen islami itu. Ternyata ia juga memberikan doa dan memintaku untuk menutup aurat ku bukan hanya di sekolah.
     Sepulang sekolah, aku melihat sebuah benda yang amat kusukai. Ku rasa itu dari ibu. Saat ibu masuk kamar, aku langsung berterimakasih kepadanya. Tapi ternyata itu bukan dari ibu. “Itu dari Mas Dicky,” Penjelasan Ibu. Lalu aku langsung berterimakasih kepada Mas Dicky. Setelah itu, aku ditelepon oleh Mas Irfan. Ia memberikan semangat dan juga pendapatnya tentang lomba menulis cerpen islami. Aku juga menceritakan tentang Mas Dicky yang sekarang sudah berubah.
     Hari Sabtu telah tiba. Saatnya diriku untuk mengikutin perlombaan cerpen islami. Karena Ibu dan Ayah tidak bias mengantarku, jadi Bu Maryam lah yang akan mendampingiku. Hari ini juga bertepatan dengan ulang tahun Mas Dicky yang ke-17. Aku melawan rasa gugup di hatiku dan mulai membuat cerpen. Karena jika aku menang dalam perlombaan ini, aku akan berikan ini ke Mas Dicky sebagai hadiah ulang tahunnya.
      Di perjalanan pulang, aku mampir ke took aneka kerajinan untuk membelikan hadiah ulang tahun kepada Mas Dicky. Setelah kado selesai dibungkus, Bu Maryam ditelepon oleh Ibuku. Ibu menyuruhku agar cepat pulang. Tetapi arah kami bukan arah pulang ,melainkan ke rumah sakit.
     Kami kerumah sakit ternyata karena Mas Dicky kecelakaan dan dia sedang dalam masa koma. Aku merasa hadiah yang ku berikan sia-sia. Tetapi aku tidak akan putus asa, aku akan terus berdoa untuknya.
     3 hari berlalu, aku mendapatkan pengumuman dari Bu Maryam bahwa aku menang dalam perlombaan membuat cerpen islami. Aku sangat senang. Tetapi aku juga sedih karena Mas Dicky belum juga sadar dari koma, padahal aku sudah menang dan ini adalah hadiah paling istimewa untuknya.
     Tak lama mendapat pengumuman itu, Ibu menelponku agar cepat-cepat untuk kembali ke rumah sakit. Saat sampai di rumah sakit, ternyata Mas Dicky meninggal dunia.aku sangat sedih, tetapi aku yakin dia pasti sudah senang dan tenang di sana melihat semua ini. Dan kado-kado yang ingin ku berikan kepadanya, belum menjadi miliknya karena dia belum memegang ataupun melihatnya. Sehingga semua kado yang ku berikan, seperti kado yang tak bertuan.

2 komentar:

  1. Menarik sekali ceritanya dan aku sampai sedih membaca nya krn kado tsb blm diberikan kpd kakaknya dicky...bagus banget

    BalasHapus
  2. Ga ada yang lebih singkat lagi ya

    BalasHapus

Kesan Pesan PKKP 2022

Halo teman-teman!  Pada kesempatan kali ini, aku mau memberi kesan pesan terhadap kegiatan PKKP 2022. Sebenarnya, aku adalah mahasiswa angka...