Kado Tak Bertuan
Karya : Nur Afni Seliana
Liburan sekolah
telah tiba, aku dan keluargaku pergi kerumah nenek. Kakakku yang seharusnya
kuliah di Bandung, Mas Irfan namanya.Baru sekarang, ia ikut berlibur ke Desa
Bojongpicung, Cianjur.
Sudah empat hari
aku berada di rumah nenek. Di sini suasananya saat sejuk. Apalagi disaat matahari
ingin muncul, anginnya sangat sejuk. Saat sedang asik memandangi langit,
tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Terdengar suara yang tak asing bagiku. Yap,
itu Mas Irfan. Ia hanya ingin memasktikan kalau aku sudah sholat, tapi
kenyataannya belum. Ia memintaku untuk sholat berjamaah dengan Mas Dicky. Mas
Irfan selalu menginginkan aku dan Mas Dicky menjadi rukun, sehingga memintaku
untuk sholat berjamaah dengannya. Sebenarnya aku enggan, tetapi karena ini
permintaan Mas Irfan, ya sudahlah.
Sebelum mengambil
wudhu, aku ingin basa basi dengan ayah dan ibu dengan menanyakan apakah mereka
sudah sholat atau belum, kalau belum aku ingin mengajak mereka untuk sholat
berjamaah juga. Tapi, nasib yang kurang baik berada di dekatku. Mereka sudah
sholat, dan mereka meminta ku untuk sholat berjamaah dengan Mas Dicky, sama
seperti permintaan Mas Irfan.
Tak terasa tinggal
hari ini dan besok kami berlibur. Tetapi aku masih ingin tetap di sini karena
pemandangan di sini jauh lebih indah dibandingkan dengan Jakarta. Selain itu,
aku juga selalu ingin bersama dengan Mas Irfan.
Mentari
benar-benar sudah terbit, waktu pun sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Penciumanku
sudah tersambar dengan wangi getuk yang ada di meja makan. Getuk itu kami
jadikan sarapan untuk pagi ini. Saat aku ingin mengambil 1 untukku, tiba-tiba
Mas Dicky langsung mengambil getuk yang ingin ku ambil juga. Akupun menjadi
marah dan tanpa sadar aku melempar getuk yang lain ke wajah Mas Dicky. Kami
perang mulut. Belum sempat ia lemparkan getuknya kepadaku, perbuatan kami diketahui oleh ayah dan ibu.
Ayah mencoba
melerai dan menahan tangan Mas Dicky sambil mengancam kami agar diberi hukuman
seperti waktu itu. Hukuman waktu itu adalah tidak boleh menonton TV selama satu
minggu penuh karena kami berebut an channel TV. Ibu juga berkomentar, tetapi
lebih tenang disbanding ayah.
Karena sudah
terlalu banyak komentar yang mereka sampaikan, aku berinisiatif untuk meminta
maaf kepada Mas Dicky agar mereka berhenti berkomentar. Aku tidak mau ayah
memberikanku hukuman lagi.
Saat sarapan, aku
terus menatapnya dengan sinis. Tapi ia malah terlihat biasa-biasa saja dan
sepertinya sudah melupakan masalah yang baru saja terjadi tadi. Karena melihat
wajahnya yang seperti itu, amarahku mulai meredam dan akupun mulai lega.
Matahari mulai berarah kesebelah barat. Menandakan
waktu akan menjadi senja. Akupun ingin bersiap-siap untuk mandi. Dari kejauhan,
terdengar perbincangan antar ibu dan Mas Irfan yang sedang mendiskusikan
tentang pertimbangan Mas Irfan bolos hanya untuk berliburan bersama keluarga.
Lalu aku meninggalkan percakapan tersebut dan aku pergi ke kamar mandi.
Tanpa kuketahui,
Mas Irfan dan Ibu membuat satu rencana. Saat pulang nanti, aku, Mas Dicky dan
Mas Irfan satu mobil di mobil Mas Irfan. Sedangkan ibu dan ayah akan memakai
mobil ayah. Mereka berdua merencanakan ini agar aku dan Mas Dicky dapat menjadi
akrab satu sama lain.
Malam sebelum kami
kembali ke Jakarta, aku menawarkan diri untuk ikut mobil Mas Irfan dan Mas
Dicky pun ikut ke mobil Mas Irfan tanpa dipintah ibu ataupun Mas Irfan.
Keesokan paginya,
kami langsung berangkat. Seperti perjanjian semalam, aku dan Mas Dicky berada
di mobil Mas Irfan. Di perjalanan, Mas Dicky tak seperti biasanya. Ia selalu
senang ketika aku dan Mas Irfan mengajaknya bercanda, ridak seperti biasanya.
Meskipun begitu, aku tetap senang dengan perubahannya itu.
Sesampainya di
Jakarta, aku hanya beristirahat untuk mempersiapkan diriku saat sekolah nanti.
Senin telah
menyapa. Aku bersiap-siap untuk dating ke sekolah. Saat sampai di sekolah,
ternyata aku ditunjuk oleh Bu Neni untuk menjadi pemimpin upacara. Tetapi yang
selalu menjadi pemimpin upacarakan Melan. “ia sudah ibu cari kemana-mana tapi
tidak ada,” jawab Bu Neni. Terpaksa dengan tak enak hati dengan Melan, aku
harus menjadi pemimpin upacara.
Saat aku masuk
kelas, Melan sudah ada di kelas dengan wajah agak kecewa. Ku rasa itu karena
aku menggantikan posisinya sebagai pemimpin upacara. Saat berbincang dengannya,
bel yang menandakan waktu belajar telah berbunyi.
Setelah melewati
berbagai pelajaran, bel istirahat telah berbunyi. Putri, teman kelas sebelahku
menghampiriku. Katanya, aku dipanggil oleh Bu Maryam, guru agama islam.
Bu Maryam
memanggilku karena aku telah dipilih olehnya dan juga bapak Kepala Sekolah
untuk mengikuti lomba menulis cerpen islami se-Jakarta. Perlombaannya juga
dimulai pada hari Sabtu minggu ini. Aku berfikir kalau aku belum mampu untuk
melakukan hal tersebut.
Bel pulang sekolah
berbunyi, aku masih saja memikirkan tentang perlombaan itu. Aku sudah 10 menit
menunggu mobil jemputan, tapi belum datang juga. Jadi, aku memutuskan untuk
naik angkot di depan setelah pertigaan.
Ketika melewati
jalanan yang begitu sepi, aku merasa ada yang mengikutiku. Dengan berani, aku
bertanya kepadanya untuk apa mengikutiku dengan nada marah. Setelah ia buka
helm, ternyata itu adalah Mas Dicky. Aku baru ingat kalau dia baru saja
dibelikan motor baru oleh ayah karena ulang tahunnya yang ke -17. Ia sengaja
menyuruh supir yang menjemputku agar tidak menjemputku. Aku merasa kesal dengan
Mas Dicky, tapi aku juga merasa senang karena Mas Dicky sudah mengajakku untuk
bergurau bersama. Ia juga memberikan pendapat dan semangatnya kepadaku tentang
perlombaan cerpen islami itu. Ternyata ia juga memberikan doa dan memintaku
untuk menutup aurat ku bukan hanya di sekolah.
Sepulang sekolah,
aku melihat sebuah benda yang amat kusukai. Ku rasa itu dari ibu. Saat ibu
masuk kamar, aku langsung berterimakasih kepadanya. Tapi ternyata itu bukan
dari ibu. “Itu dari Mas Dicky,” Penjelasan Ibu. Lalu aku langsung
berterimakasih kepada Mas Dicky. Setelah itu, aku ditelepon oleh Mas Irfan. Ia
memberikan semangat dan juga pendapatnya tentang lomba menulis cerpen islami.
Aku juga menceritakan tentang Mas Dicky yang sekarang sudah berubah.
Hari Sabtu telah
tiba. Saatnya diriku untuk mengikutin perlombaan cerpen islami. Karena Ibu dan
Ayah tidak bias mengantarku, jadi Bu Maryam lah yang akan mendampingiku. Hari
ini juga bertepatan dengan ulang tahun Mas Dicky yang ke-17. Aku melawan rasa
gugup di hatiku dan mulai membuat cerpen. Karena jika aku menang dalam
perlombaan ini, aku akan berikan ini ke Mas Dicky sebagai hadiah ulang
tahunnya.
Di perjalanan
pulang, aku mampir ke took aneka kerajinan untuk membelikan hadiah ulang tahun
kepada Mas Dicky. Setelah kado selesai dibungkus, Bu Maryam ditelepon oleh
Ibuku. Ibu menyuruhku agar cepat pulang. Tetapi arah kami bukan arah pulang
,melainkan ke rumah sakit.
Kami kerumah sakit
ternyata karena Mas Dicky kecelakaan dan dia sedang dalam masa koma. Aku merasa
hadiah yang ku berikan sia-sia. Tetapi aku tidak akan putus asa, aku akan terus
berdoa untuknya.
3 hari berlalu,
aku mendapatkan pengumuman dari Bu Maryam bahwa aku menang dalam perlombaan
membuat cerpen islami. Aku sangat senang. Tetapi aku juga sedih karena Mas
Dicky belum juga sadar dari koma, padahal aku sudah menang dan ini adalah
hadiah paling istimewa untuknya.
Tak lama mendapat
pengumuman itu, Ibu menelponku agar cepat-cepat untuk kembali ke rumah sakit.
Saat sampai di rumah sakit, ternyata Mas Dicky meninggal dunia.aku sangat
sedih, tetapi aku yakin dia pasti sudah senang dan tenang di sana melihat semua
ini. Dan kado-kado yang ingin ku berikan kepadanya, belum menjadi miliknya
karena dia belum memegang ataupun melihatnya. Sehingga semua kado yang ku
berikan, seperti kado yang tak bertuan.
Menarik sekali ceritanya dan aku sampai sedih membaca nya krn kado tsb blm diberikan kpd kakaknya dicky...bagus banget
BalasHapusGa ada yang lebih singkat lagi ya
BalasHapus